Sejarah Jeuleupee



GAMPONG JEULEUPEE

Gampong Jeuleupee merupakan salah satu gampong yang berada di wilayah Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Secara administratif, Gampong Jeuleupee memiliki kode wilayah 11.07.16.2050 dan termasuk dalam wilayah Kecamatan Pidie. Gampong ini juga tercatat dengan kode pos 24151.

Keberadaan Gampong Jeuleupee merupakan bagian dari perkembangan permukiman masyarakat di wilayah Kecamatan Pidie. Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan kehidupan masyarakat, terbentuklah suatu komunitas yang menjalankan kehidupan sosial, keagamaan, ekonomi, dan pemerintahan gampong berdasarkan adat serta nilai-nilai yang berkembang di masyarakat Aceh.

Dalam perjalanan sejarahnya, masyarakat Gampong Jeuleupee tumbuh dengan mengedepankan semangat kebersamaan, gotong royong, dan hubungan kekeluargaan. Kehidupan masyarakat tidak terlepas dari nilai-nilai keislaman dan adat Aceh yang menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Perkembangan Gampong Jeuleupee dari masa ke masa ditandai dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas dasar, pendidikan, pelayanan pemerintahan, sarana ibadah, infrastruktur, serta kegiatan ekonomi masyarakat. Pemerintahan gampong bersama masyarakat terus berupaya melakukan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan warga.

Sebagai bagian dari Kecamatan Pidie, Gampong Jeuleupee juga memiliki hubungan sosial dan ekonomi yang erat dengan gampong-gampong lain di sekitarnya. Interaksi tersebut berlangsung melalui kegiatan perdagangan, pendidikan, keagamaan, sosial kemasyarakatan, serta kegiatan pembangunan.

ARAKATA: 

\"\"Referensi: hasil wawancara dengan petua gampong yaitu M. Yahya Taeb (abuwa aya) umur 78 tahun

Sejarah 
Pada masa dahulu, Gampong Jeuleupee dikenal dengan nama Gampong Meunasah Dayah. Nama tersebut kemudian berubah menjadi Gampong Dayah Jeuleupee pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Seiring perkembangan zaman, nama tersebut kembali disederhanakan menjadi Gampong Jeuleupee hingga sekarang.

Asal-usul Nama Jeuleupee
Nama Jeuleupee berasal dari keberadaan pohon leupee yang pada masa dahulu tumbuh sangat besar di wilayah gampong tersebut. Keberadaan pohon tersebut kemudian menjadi salah satu penanda dan asal-usul nama Gampong Jeuleupee.


Asal-Usul Nama Dusun
Pada masa dahulu, Gampong Jeuleupee terdiri atas tiga dusun, yaitu  Dusun Beringin, Dusun Rotan, dan Dusun Sejati.

Dusun Beringin dinamakan demikian karena di wilayah tersebut terdapat pohon beringin yang berukuran sangat besar dan menjadi penanda bagi masyarakat setempat.

Dusun Rotan berada di sekitar kawasan sekolah Lampoh Awe. Nama tersebut berkaitan dengan banyaknya tanaman awe atau rotan yang tumbuh di kawasan tersebut pada masa dahulu.
Sementara itu.

Dusun Sejati dinamakan demikian karena merupakan salah satu kawasan yang menjadi pusat keramaian dan tempat berkumpulnya penduduk.

Seiring berjalan waktu nama dusun rotan dihapus karena tidak terdapat rumah penduduk, sekarang yang tercatat cuma dua dusun yaitu, dudun beringin dan dusun sejati.


Asal-Usul Nama Meunasah Dayah

Nama Meunasah Dayah berkaitan dengan sejarah kehidupan keagamaan masyarakat pada masa dahulu. Di wilayah tersebut pernah tinggal seorang alim yang mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat. Keberadaan tokoh agama tersebut menjadi salah satu alasan kawasan itu dikenal sebagai Meunasah Dayah.
Sejarah tersebut juga diperkuat oleh adanya keterkaitan dengan keberadaan Abu Krueng Kalee pada masa dahulu, yang dikenal sebagai salah satu tokoh ulama dalam sejarah keagamaan Aceh.


Kuburan Keramat Tu

Di Gampong Jeuleupee terdapat sebuah tempat yang dikenal oleh masyarakat dengan nama Jeurat Tu. Tempat ini dikenal sebagai kuburan yang dianggap keramat oleh masyarakat pada masa dahulu. Jeurat Tu juga menjadi tempat masyarakat berkumpul untuk berdoa dan melaksanakan kanduri turun sawah.
Dalam kepercayaan masyarakat setempat, kedatangan lutung ke kawasan kuburan tersebut dianggap sebagai suatu isyarat bahwa musim turun sawah telah tiba. Lutung yang dimaksud memiliki ciri-ciri berupa bulu berwarna abu-abu dan ekor yang panjang. Kepercayaan tersebut merupakan bagian dari kearifan dan tradisi masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.


Sejarah Pertanian dan Jalan Sanggeu Grong-Grong

Dalam perkembangan pertanian masyarakat, terdapat pula kisah mengenai pembangunan jalan pada masa Pakeh Ali. Jalan yang sekarang dikenal sebagai Jalan Sanggeu Grong-Grong pada awalnya berkaitan dengan kegiatan pembuatan sawah.
Pada saat pembuatan sawah, tanah hasil penggalian kemudian dimanfaatkan untuk menimbun dan meninggikan badan jalan. Dengan demikian, jalan tersebut terbentuk dari tanah hasil penggalian lahan sawah. Seiring waktu, jalan tersebut dikenal oleh masyarakat dengan nama Jalan Sanggeu Grong-Grong dan menjadi salah satu bagian dari sejarah perkembangan pertanian serta infrastruktur Gampong Jeuleupee.
Secara keseluruhan, sejarah Gampong Jeuleupee tidak terlepas dari keberadaan alam, perkembangan kehidupan keagamaan, pembagian wilayah dusun, tradisi masyarakat, serta aktivitas pertanian. Berbagai nama tempat dan tradisi yang masih dikenal hingga sekarang menjadi bagian penting dari identitas dan warisan sejarah masyarakat Gampong Jeuleupee.

Catatan sejarah: Tahun berdirinya gampong, asal-usul nama \\\"Jeuleupee\\\", nama tokoh pendiri atau tokoh awal gampong, serta perubahan wilayah administrasi dari masa ke masa perlu dilengkapi berdasarkan keterangan para tokoh masyarakat, dokumen pemerintahan gampong, dan arsip Kecamatan Pidie agar sejarah yang ditulis benar-benar sesuai dengan sejarah lokal.





Jeuleupee

Alamat
Jl. Sanggeue-Grong-grong Gampong Jeuleupee
Phone
Telp. 0651 - 7554635, Fax. 0651 - 7554636
Email
[email protected]
Website
jeuleupee.sigapaceh.id

Kontak Kami

Silahkan Kirim Tanggapan Anda Mengenai Website ini atau Sistem Kami Saat Ini.

Total Pengunjung

30.052